Begitu banyak kampanye di luar sana yang mengucapkan perihal “back to nature” serta “go green”. Tetapi hingga sejauh berapa sich kamu telah melaksanakan life-style ini? Dapat disaksikan dari beberapa rutinitas kecil dibawah berikut ini.

1. Buang sampah asal-asalan

Menurut hasil survey, negara Indonesia sebagai negara penghasil sampah paling banyak 10 besar di dunia. Semestinya masalah ini tidaklah suatu prestasi yang dibanggakan, biarpun judulnya 10 besar. Lihatlah dari rutinitas kita setelah makan dari makanan paket, apa paketannya kita buang demikian saja di sebarang tempat, atau kita cari tempat sampah di lebih kurang kita untuk tempat buang sampah? Bila tidak menemukannya lebih baik kita menyimpannya di tas terlebih dulu. Baru bila telah menemukannya tempat sampah, buanglah sampah itu.

Kadangkala perihal simpel ini kerap diacuhkan oleh beberapa orang. Seringkali banyak sampah di berjalan-jalan yang semestinya bebas dari sampah, sebab akan mengganggu pengendara yang lain yang lewat ditambah lagi bila sampahnya terbang serta perihal pengendara.

Kerap kita temui beberapa orang yang naik mobil mendadak buka jendelanya lalu sekehendak hati sendiri lemparkan sampahnya ke luar mobil. Ya bisa lah dengan sosial ekonomi mapan dengan mobil yang bagus, dengan pendidikan dapat disebut berpendidikan, tetapi bila masih buang sampah dari kaca jendela, duh rasa-rasanya tidak sekali deh.

 

Baca Juga : Pemahaman , Manfaaat , Serta Arah Go Green

 

2. Minuman paket sekali gunakan

Sedikit yang mengetahui jika bawa botol air minum sendiri mempunyai banyak faedah. Tidak cuman lebih irit, kita ikut menolong kurangi angka sampah plastik dari botol paket. Bila untuk pelajar serta mahasiswa banyak yang telah melaksanakannya, ditambah lagi saat ini di beberapa tempat umum telah disajikan kran air siap minum, jadi kapan saja air kita habis, kita dapat isi secara gratis di kran-kran itu. Terkecuali itu, minum air putih sehatkan dibanding dengan minuman berwarna dengan tipe soda serta sejenisnya.

3. Gunakan kantong plastik berbelanja dari supermarket

Telah rasakan dong pastilah berbelanja di supermarket serta untuk kantong plastik belanjanya digunakan ongkos Rp 200,-. Memang tidak sebegitu harga dibanding pada harga belanjaan kita, tetapi nyatanya dampaknya cukup besar lho untuk dunia. Negara kita balik mendiami rangking tinggi yakni rangking ke dua untuk penghasil sampah plastik paling besar di dunia. Sensasional khan?

Di lautan Indonesia, banyak diketemukan sampah plastik yang tidak dapat didaur lagi sampai-sampai mengakibatkan bisa mencemari lingkungan. Bila mulai saat ini kita berusaha untuk bawa kantong berbelanja dari kain sendiri, cukup menolong untuk kurangi angka sampah plastik di Indonesia yang ujarnya cuma sekali gunakan itu.

4. Kerap gunakan kendaraan pribadi

Memang transportasi umum di Indonesia, belumlah juga senyaman transportasi umum di beberapa negara maju. Banyak bis yang tidak ditambahkan AC jadi berasa seperti di panggangan atau oven. Terkecuali itu banyak pula kendaraan umum ragam bis atau angkot yang berhenti mendadak, lalu berhentinya dapat lama sekali untuk mengharap penumpang.

Ditambahkan dimungkinkannnya peristiwa kejahatan di kendaraan umum ragam KRL, Bis Trans, atau angkutan umum yang lain. Masalah ini membuat kebanyakan orang menentukan tidak untuk pengin naik kendaraan umum. Meski sebenarnya dengan naik kendaraan umum, kita cukup dapat berperan tidak untuk memunculkan asap kendaraan pribadi. Ditambah lagi bila jarak yang ditempuh cukup dekat, jalan kaki juga sebetulnya kuat, kan? 

5. Merokok

Satu soal sebagai kontributor polusi merupakan sumbangan dari asap rokok. Asap yang memiliki kandungan beragam kandungan beresiko seperti karbonmonoksida serta amonia ini mencemari udara yang diperlukan oleh manusia. Seorang merokok, tentunya satu seluruh ruang dapat hirup gas hasil buangnya. Ditambah lagi bila di ruang itu ada anak kecil yang paru-parunya masih bersih. Apakah itu namanya tidak jahat? Apa tega meracuni anak kecil untuk kesenangan semata-mata yang cuma berlaku beberapa menit? Think again, guys!

6. Tersisa Makanan

Tersisa makanan sebagai satu diantara penghasil gas metana paling besar. Memang sich bila kita makan dalam tempat makanan yang siapkan bagian besar, ada argumen untuk kita tidak habiskan makanan. Tetapi, dapat kan bila makanan yang bersisa itu dibungkus serta dibawa pulang ke rumah? Atau prevensi dari mula dengan mengharap bagian setengahnya saja. Dapat juga dengan ajak rekan yang benar-benar miliki bagian makan besar untuk makan dengan, ini justru dapat sekaligus nambah kebaikan. Jadi, harus perlukan ya makanan yang telah disediakan. Kan sayang… di luar sana masih banyak orang-orang yang tidak dapat nikmati makanan seperti dalam kita.

Share Post